0

Negara-negara yang pernah inflasi parah

Inflasi secara pengertian umum adalah penurunan nilai mata uang dari waktu ke waktu. Atau bisa juga diartikan suatu proses meningkatnya harga-harga secara umum dan terus-menerus (continue) berkaitan dengan mekanisme pasar yang dapat disebabkan oleh berbagai faktor, seperti konsumsi masyarakat yang meningkat, berlebihnya likuiditas di pasar yang memicu konsumsi atau bahkan spekulasi, sampai termasuk juga akibat adanya ketidaklancaran distribusi barang.

Inflasi sendiri terdari dari beberapa macam antara lain:

  • Inflasi ringan (kenaikan harga barang dibawah 10% pertahun)
  • Inflasi sedang (kenaikan harga barang 10% – 30% setahun)
  • Inflasi Berat (kenaikan harga barang 30% – 100% setahun)
  • HIPERINFLASI (Inflasi yang tidak terkendari, kenaikan diatas 100% bahkan perbulan atau perhari)

Ada beberapa negara yang pernah merasakan Hiperinflasi sehingga harga-harga barang tak terkendali, sebagian besar penyebabnya dikarenakan oleh perang.

1. Hungaria (1946)

Inflasi 207 persen setiap hari.

Bayangkan harga barang naik lebih dari 200% setiap hari, ibarat kita membeli beras 10,000 perkilogram, dan besoknya naik menjadi 30,000 perkilogram begitu seterusnya.

Harga naik dua kali lipat setiap 15 jam. Pada Juli 1946, angka inflasi di Hungaria mencapai 41.900 triliun persen per bulan sekaligus menjadi episode hiperinflasi terburuk sepanjang sejarah dunia. Hungaria juga harus membayar ganti rugi bagi negara yang merasa dirugikan pada perang dunia II karena Hungaria sendiri berada di blog Nazi yang kalah. Kondisi ini diperparah dengan kenaikan harga bahan pokok dua kali lipat setiap 15 jam. Artinya, berapa pun uang yang dimiliki rakyat di malam hari hanya berharga setengahnya saat matahari terbit. Saat itu pecahan uang terbesar di Hungaria adalah 1 kuintilion pengo, satu kuintilion adalah angka 1 diikuti 12 angka nol di belakangnya. Pada 1 Agustus 1946, pemerintah mengadopsi sebuah program stabilisasi radikal termasuk di dalamnya reformasi pajak, mengumpulkan aset berupa emas di luar negeri, serta pengenalan mata uang baru yaitu forint

2. Zimbabwe (2008)

Inflasi harian: 98 persen

Harga naik dua kali lipat setiap 25 jam. Penyebab awal dari hancurnya mata uang Zimbabwe adalah reformasi pertanahan yang kontroversial dengan merampas tanah milik petani kulit putih pada 1990-an, akibatnya Zimbabwe mengalami krisis di bidang pertanian. Situasi memburuk setelah negeri itu terlibat Perang Kongo pada 1998 dan dampak sanksi ekonomi dari AS dan Eropa terhadap pemerintahan Robert Mugabe. Satu dekade kemudian dampak ekonominya mulai terasa. Pada 2008, level inflasi di Zimbabwe mencapai 79 juta persen per bulan.

Akibat dari Hiperinflasi tersebut warga kekurangan air bersi serta pasokan listrik. Mereka memilih berbelanja ke Afrika selatan untuk kehidupan sehari-hari.

Pada 2009, Bank Zimbabwe membekukan mata uang negeri itu lalu menggunakan mata uang AS dan Afrika Selatan sebagai alat pembayaran yang sah.

3. JERMAN (1923)

Inflasi harian: 21 persen

Akibat dari hiperinflasi, Harga barang dan kebutuhan di Jerman pada waktu itu naik setiap 3 hari, 17 jam. Perang dunia I telah berakhir dan Jerman berada di pihak yang kalah dari sekutu pada 1918, Jerman dililit utang dan biaya pembangunan. Akibatnya, pemerintah mulai mencetak uang baru untuk membeli mata uang dan membayar utang. Di saat semakin banyak uang dicetak, maka nilai malah makin merosot. Krisis semakin  buruk ketika Jerman telat membayar utang pada 1923 yang memicu Belgia dan Perancis menduduki Lembah Ruhr, pusat industri Jerman. Kedua negara itu berniat menyita aset Jerman untuk membayar utang. Situasi ini memicu pemogokan kerja dan terhentinya produksi. Pada Oktober 1923, angka inflasi melejit mencapai 29.500 persen sebulan dengan harga bahan pokok naik dua kali lipat setiap tiga hari. Pada Januari 1923, harga roti masih 250 mark tetapi pada November harga roti menjadi 200 juta mark.

Akhir tahun 1923, pemerintah Jerman memperkenalkan mata uang baru, rentenmark yang didukung ketersediaan lahan pertanian. Ekonomi menjadi lebih stabil setelah negara-negara kreditur sepakat untuk merestrukturisasi utang perang Jerman.

4. YUNANI (1944)

Inflasi harian: 18 persen

Harga naik dua kali lipat setiap 4 hari, 6 jam. Ekonomi Yunani ambruk saat negeri itu diduduki Jerman dalam Perang Dunia II. Jerman mengangkut semua barang mentah, ternak, dan makanan. Di sisi lain biaya pendudukan diserahkan sepenuhnya kepada pemerintahan boneka yang dibentuk Jerman. Anjloknya produksi pertanian memicu krisis pangan dan periode yang kemudian disebut sebagai “Kelaparan Besar”. Meski kenaikan harga barang-barang pokok tidak seburuk di Hungaria atau Jerman pasca-perang, perbaikan ekonomi Yunani membutuhkan waktu lebih panjang. Setelah, Jerman angkat kaki pada Oktober 1944, pemerintah Yunani melakukan tiga langkah dalam 18 yaitu reformasi keuangan, pinjaman luar negeri, dan menerbitkan mata uang baru untuk menstabilkan perekonomian.

5. VENEZUELA (2017-sekarang)

Hiperinflasi Venezuela disebabkan oleh ketergantungan pendapatan negara terhadap sumber minyak. Memang Venezuela adalah salah satu negara yang kaya akan minyak bumi bahkan stok minyaknya melebihi negara Arab Saudi. Ketika harga minyak anjlok maka pendapatan negara turun selain itu juga penyebab inflasi besar di Venezuela adalah beban pemerintah yang banyak memberikan subsidi kepada warganya. Diperkirakan IMF bahwa inflasi di Venezuela pada 2018 mencapai 1,000,000 persen.

Akibat dari hiperinflasi tersebut, warga Venezuela kekurangan air bersih serta pasokan listrik. Sarana kesehatan seperti Rumah Sakit dan obat-obatan langka. Banyak warga Venezuela yang pergi meninggalkan negaranya ke negara tetangga seperti Brazil dan Colombia.

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *